JBN || Jakarta, 27 Agustus 2026 — Sikap Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad saat menerima Botok dalam pertemuan di Jakarta menarik perhatian. Dasco terlihat sangat santun dan tenang, bahkan meminta agar draf perjanjian yang telah ditandatanganinya dibaca secara perlahan dan dipahami dengan baik.
Sikap tersebut dapat dipandang sebagai langkah politik yang mengedepankan dialog, terutama menghadapi sosok Botok yang belakangan dikenal sebagai salah satu simbol perlawanan masyarakat Pati.
Dalam beberapa aksi sebelumnya, kelompok masyarakat yang dipimpin atau berada di belakang Botok disebut berhasil menggelar demonstrasi secara tertib. Mereka bahkan melakukan aksi menduduki gedung DPRD tanpa tindakan anarkis. Pesan yang disampaikan sederhana: mereka merasa sebagai bagian dari masyarakat yang turut membiayai negara melalui pajak dan karena itu berhak menyampaikan aspirasi.
Botok dan Karakter Warga Pantura
Botok digambarkan sebagai sosok yang memiliki pendirian kuat dan sulit dipengaruhi. Dalam narasi yang berkembang di kalangan masyarakat, berbagai upaya untuk meredam gerakan tersebut disebut pernah dilakukan, namun justru membuat perlawanan semakin kuat.
Kekuatan Botok bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada dukungan masyarakat Pantura yang memiliki karakter tegas, terbuka dan apa adanya. Mereka bukan kelompok yang sedang membangun karier politik. Karena itu, kepentingan mereka lebih banyak bertumpu pada persoalan yang mereka anggap sebagai kepentingan masyarakat.
Kondisi tersebut membuat gerakan semacam ini relatif sulit dikendalikan hanya dengan pendekatan politik praktis.
Mengapa Dasco Memilih Dialog?
Dalam konteks itulah, sikap Dasco menjadi menarik. Jika tuntutan masyarakat tidak direspons, simbol perlawanan yang melekat pada Botok berpotensi semakin besar. Sebaliknya, membuka ruang dialog dapat menjadi jalan untuk meredam ketegangan sekaligus mencari titik temu.
Salah satu momen yang menjadi perhatian adalah ketika Botok menunjukkan tangkapan layar terkait pergerakan saham salah satu bank Himbara. Peristiwa tersebut kemudian dianalogikan dengan fenomena ketika Cristiano Ronaldo menggeser botol Coca-Cola dalam sebuah konferensi pers yang sempat dikaitkan dengan dampak terhadap persepsi pasar.
Namun, secara jurnalistik, hubungan langsung antara aksi Botok dan pergerakan saham tersebut tetap perlu dilihat secara hati-hati dan tidak serta-merta dianggap sebagai hubungan sebab-akibat.
Ultimatum soal RUU Perampasan Aset
Yang juga menjadi perhatian adalah pernyataan keras massa terkait pembahasan RUU Perampasan Aset. Mereka menyampaikan ultimatum apabila pada 15 Desember 2026 RUU tersebut dinilai tidak memiliki kepastian atau tidak disahkan sesuai harapan mereka.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa gerakan masyarakat Pati tidak sekadar menyampaikan kritik, tetapi juga membawa tuntutan politik yang lebih luas.
Meski demikian, satu hal penting yang patut diapresiasi adalah aksi demonstrasi yang berlangsung secara tertib. Jika penyampaian aspirasi tetap dilakukan secara damai, terbuka dan tanpa kekerasan, maka ruang dialog antara masyarakat dan lembaga negara seharusnya terus dibuka.
Botok mungkin hanya satu nama. Tetapi di balik nama itu, ada suara masyarakat yang merasa perlu didengar. Dan respons Dasco menunjukkan bahwa dialog masih menjadi salah satu jalan penting untuk mencari penyelesaian.
LBH CLPK
H.S. Dotulong, SH., MH., CPBArb.







